logo cahaya institute
Mahasiswa Milenial Harus Berani Berkata-kata, Bukan Berjoget Ria

Mahasiswa Milenial Harus Berani Berkata-kata, Bukan Berjoget Ria

Penulis: Asep Maulana Rohimat, M.S.I  

Tuduhan miring kerap terjadi kepada kelompok mahasiswa di era milenial, mereka dianggap “mati kutu” akibat kebijakan kampus yang menekan setiap mahasiswa untuk menyelesaikan “segunung” tugas kampus. Akibatnya mereka kehabisan waktu dan menjadi alasan pembenar tidak adanya kesempatan luas bagi mereka dalam mencermati problematika bangsa, apalagi memberikan solusi ideal terhadap problem tersebut. Faktanya memang sangat sedikit mahasiswa yang berani aktif merespon problem bangsa dengan suara lantang dan gagah berani. Ekspresi Demonstrasi di jalanan yang efektif dilakukan oleh mahasiswa di era tahun 65, tahun 98 dan era tahun 2000an rasa-rasanya tidak lagi ditemukan secara masif di era milenial ini. Lantas, kemana wujudnya mahasiswa di era milenial sekarang? Digunakan untuk apa kata-kata mahasiswa saat ini? Apakah generasi ini terlena dengan joget ria?

Tiga  Pertanyaan itulah yang perlu dijawab secara bernas oleh setiap civitas akademika sebagai warga di dunia kampus. Jawaban pertama tentu harus datang dari kelompok mahasiswa yang bersangkutan, mengapa kualitas intelektual mereka bak sirna “ditelan media sosial”. Dimanakah sekiranya posisi mereka saat terjadi fenomena ketidak adilan bagi Rakyat Indonesia? Kemana suara mereka saat banyak nyawa melayang akibat kelaparan dan salah urus kebijakan? Kemana kata-kata mereka saat terjadi pelecehan seksual dari dosen terhadap mahasiswanya? Bahkan bisa jadi korbannya adalah teman mereka sendiri.  Benarkah  sedang sibuk mengerjakan tugas-tugas akademik dari kampus? atauhkah sedang sibuk menghabiskan waktu tanpa manfaat apapun bagi peradabannya, termasuk berjoget ria di depan ponsel masing-masing, demi konten dan viralitas.

Jika yang terjadi adalah lunturnya kualitas intelektual kelompok mahasiswa saat ini akibat efek digitalisasi kehidupan, berarti mahasiswa masa kini miskin literasi digital dalam penggunaan gadget yang mereka pegang. Harusnya, saat internet menjadikan “dunia dalam genggaman”, maka mereka bisa secara sangat luas menemukan data-data tentang idealisme mahasiswa. Mereka bisa secara cepat dan akurat menemukan fenomena ketidak adilan yang dirasakan oleh rakyat. Lalu dari data itulah kemudian mereka mencermati, mengolah, dan memproduksi kata-kata mahasiswa sebagai bentuk kepedulian mereka.

Jawaban kedua harus datang dari dosen dan pengelola kampus, sudah sejauh mana para dosen memberikan inspirasi idealisme kepada mahasiswa. Jangan sampe dosen di kelas ikut terbawa dekadensi idealisme mahasiswa milenial, padahal kampus harusnya memproduksi sebanyak-banyaknya generasi mahasiswa sebagai “agent of change” yang diharapkan berkontribusi nyata bagi peradaban masyarakat. Dosen harus bisa memprovokasi mahasiswa mencermati keadaan dengan jernih, lalu berikan mereka percikan-percikan semangat memperbaiki problem bangsa, mereka adalah anak-anak muda penerus generasi kedepan.

Pengelola kampus, mulai dari rektor sampai ke program studi harus bisa menjawab juga, kenapa prodi-prodi sekarang ini hanya orientasi pekerjaan dengan seakan melemahkan orientasi pengembangan pemikirannya, padahal level kampus sebagai perguruan tinggi bukan sekedar teori dan praktek, namun bisa menghasilkan pemikiran idealis dan terukur untuk diemplementasikan. Mencetak mereka menjadi seorang profesional di bidang keilmuannya, namun jati diri idealisme mereka tetap harus menjadi urgensi dalam pengembangan kurikulum perguruan tinggi.

Pihak ketiga yang harus menjawab problem ini adalah orang tua dan keluarga. Bahwa ekosistem pendidikan itu adalah semacam lingkaran yang tidak boleh terputus, antara mahasiswa-lembaga perguruan tinggi dan keluarga(orang-tua). Ketiga elemen ini adalah sangat penting dalam mencetak mahasiswa ideal. Maka tanggungjawab juga ada di pihak keluarga, untuk selalu mendorong anaknya menjadi mahasiswa idealis. Perlu pengawasan yang optimal dalam memantau aktifitas anaknya sebagai mahasiswa, terlebih usia mahasiswa adalah masih tergolong usia rentan secara psikologis, yaitu adanya fenomena  krisis seperempat abad atau quarter life crisis.

Kondisi kirisis ini biasa menimpa kaum muda pada masa transisi dari remaja menuju dewasa awal pada kisaran usia 20-29 tahun. Menurut hasil penelitian Maharani, dkk. [1] menyatakan bahwa Orang yang sedang mengalami quarter life crisis biasanya merasa belum memiliki gambaran jelas akan diri dan tujuan hidupnya. Krisis setengah abad ditandai dengan adanya kekhawatiran berlebih, pesimis, cemas, dan bahkan perasaan tertekan, sehingga menyebabkan terganggunya aktivitas, perasaan tertekan, hingga depresi. Krisis setengah abad biasanya disebabkan karena adanya tuntutan yang dialami oleh individu pada usia dewasa awal.

Salah satu yang bisa dilakukan oleh mahasiswa milenial, adalah menulis buku. Meskipun bentuknya adalah antologi, namun tentu menjadi sebuah kekuatan yang dahsyat jika buku tersebut berisi kata-kata mahasiswa yang kritis. Saya menjadi editor Buku Berjudul Kata-kata Mahasiswa yang diterbitkan oleh CHU Media (bagian dari cahaya-institute). Buku ini adalah asli kata-kata mahasiswa yang berupa curah gagasan dari generasi milenial yang peduli terhadap problematika bangsa. Mulai dari problem pendidikan, agama, sosial, politik, ekonomi, dan teknologi. Mahasiswa para penulis ini adalah para aktifis kampus yang tidak terlena dengan hedonisme perkembangan teknologi, namun justeru memanfaatkan tekonologi untuk berprestasi di dunia akademik maupun non akademik. Buku ini bukan tugas kuliah, namun dari kuliah itulah mereka terinspirasi untuk menulis keluh kesah mereka saat mencermati fenomena bangsa, mereka mengurai problemnya lalu merajut satu persatu solusi yang tepat untuk menjadi rekomendasi bagi pemerintah, pihak swasta dan masyarakat.

Selamat membaca…

Hidup Mahasiswa…

Kartasura, Januari 2023

 

[1] Septiana Dwiputri Maharani(2022) “Dinamika Quarter Life Crisis pada Mahasiswa: Analisis berdasar Perspektif Pemikiran Ki Ageng Suryomentaram”  lihat: https://kampus.republika.co.id/posts/188274/mahasiswa-sering-mengalami-krisis-seperempat-abad-bagaimana-mengatasinya-

One Response