Penulis: Asep Maulana Rohimat, M.S.I Direktur cahayainstitute.id
Puasa di bulan Ramadhan kali ini minimal harus menumbuhkan Tiga hasil karya yang dituju. Tiga hal itu adalah Sehat, Taqwa, dan tinggi Empati. Jika ketiga ini sudah kita raih, maka pastilah puasa Ramadhan kita termasuk puasa yang sukses dan berdampak positif untuk kehidupan di dunia dan akhirat.
Sehat
Bukan hanya di masa pandemi covid-19, Islam sejak awal selalu memerintahkan seluruh umatnya untuk membentuk jika yang sehat lalu menjaga kesehatan tersebut. Rasulullah mencontohkan pola hidup sehatnya secara langsung, lalu ditiru oleh para sahabat, hingga sampai kepada kita saat ini. Kesehatan menjadi sangat penting karena menjadi syarat awal agar seluruh kegiatan di dunia ini bisa dilakukan secara maksimal, bisa dibayangkan karena efek pandemic yang menyerang kesehatan manusia saat ini, maka semua sector kehidupan menjadi terganggu, bahkan ada yang lumpuh tidak bisa dilakukan.
Puasa Ramadhan dan juga puasa sunnah lainnya adalah salah satu bentuk nyata kasih sayang Allah SWT untuk membentuk kesehatan umatnya, baik sehat fisik dan juga sehat secara psikis. Puasa membuat tubuh manusia menjadi lebih sehat karena terjadinya metabolisme tubuh yang diistirahatkan dari berbagai aktifitas makan dan minum. Terkadang asupan makanan dan minuman sehari-hari kita terlalu berlebihan dan tidak sesuai kebutuhan, yang akhirnya membuat tubuh rentan terkena penyakit. Bahkan makanan di perut itulah yang menyebabkan semua penyakit bisa menjangkiti tubuh manusia.
Taqwa
Merujuk kepada QS. Al-Baqarah 183, tujuan utama disyariatkannya puasa Ramadhan adalah untuk mencetak manusia mukmin yang bertaqwa. Untuk itu perlu kiranya Mendefinisikan taqwa secara sederhana, yaitu sikap seorang manusia yang takut kepada Allah SWT yang diwujudkan dengan penghambaan dan ketaatan terhadap seluruh perintahNya dan menjauhi seluruh laranganNya. Maka sering disebut dengan istilah insan bertaqwa
Insan bertaqwa pasti akan selalu berperilaku positif dalam hidupnya dengan berpedoman kepada aturan-aturan yang telah Allah tetapkan dalam syariat Islam. Bisa dilihat dalam kehidupan nyata, bahwa insan bertaqwa akan selalu berbuat baik kepada sesama, dan alam sekitar. Seperti contoh manusia yang taat beribadah dan selalu jujur dalam perkataaanya, melakukan tugas-tugasnya secara profesional dan memiliki kepedulian terhadap orang lain juga gemar memelihara lingkungan hidup.
Untuk menjadi insan bertaqwa tidaklah mudah, namun sangat bisa untuk diraih. Salah satu cara meraihnya adalah dengan latihan, pembiasaan, dan adanya lingkungan sosial yang mendukung. Puasa Ramadhan adalah menjadi waktu latihan yang sangat efektif untuk meraih taqwa ini. Lalu dirasakan hasilnya di bulan Syawal dan seluruh waktu setelahnya. Sehingga kesuksesan pembiasaan Ramadhan bisa dirasakan sepanjang masa.
Secara manajemen waktu, seorang yang berpuasa akan dilatih untuk mengatur waktunya secara tepat dan terukur. Jika perintah yang wajib sudah selalu dilakukannya, maka insan bertaqwa berupaya sekuat tenaga untuk melakukan kebajikan yang bersifat sunnah secara istiqomah, diantaranya adalah selalu bangun sebelum subuh, untuk melakukan makan sahur, melakukan shalat malam, dan ibadah lainnya. Lalu melaksanakan shalat subuh tepat waktu dan secara berjamaah untuk laki-laki. Selesai subuh kita dilatih untuk memperbanyak dzikir, baca Al-Qur’an, mendalami makna Al-Qur’an sambil ber’tikaf di masjid lalu dilanjutkan sampai waktu israq/terbit matahari. Di waktu inilah setelah matahari naik setumbak disunnahkan untuk melakukan shalat sunnah syuruq, yang pahalanya sebanding dengan melakukan haji dan umrah di baitullah.
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَنْ صَلَّى الْغَدَاةَ فِى جَمَاعَةٍ ثُمَّ قَعَدَ يَذْكُرُ اللَّهَ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ كَانَتْ لَهُ كَأَجْرِ حَجَّةٍ وَعُمْرَةٍ
». قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « تَامَّةٍ تَامَّةٍ تَامَّةٍ ».
Dari Anas bin Malik radhiallahu’anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang shalat subuh berjamaah, kemudian duduk berdzikir sampai terbit matahari, kemudian shalat dua rakaat maka dia mendapatkan pahala sebagaimana pahala haji dan umrah.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menambahkan: “Sempurna..sempurna..sempurna…” (HR. At Turmudzi no.589, Hadis Hasan)
Praktek taqwa selanjutnya adalah istiqomah melakukan shalat sunnah Dhuha sebagai bentuk rasa syukur insan bertaqwa kepada Allah SWT atas semua yang telah dianugerahkanNya, dua rakaat sholat Dhuha pun disebutkan sebagai bentuk shodaqoh tubuh kita, sebagaimana jari jemari dan tiap persendiannya pun bersedekah.
يُصْبِحُ عَلَى كُلِّ سُلاَمَى مِنْ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ فَكُلُّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةٌ وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ وَنَهْىٌ عَنِ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ وَيُجْزِئُ مِنْ ذَلِكَ رَكْعَتَانِ يَرْكَعُهُمَا مِنَ الضُّحَى
“Pada pagi hari diharuskan bagi seluruh persendian di antara kalian untuk bersedekah. Setiap bacaan tasbih (subhanallah) bisa sebagai sedekah, setiap bacaan tahmid (alhamdulillah) bisa sebagai sedekah, setiap bacaan tahlil (laa ilaha illallah) bisa sebagai sedekah, dan setiap bacaan takbir (Allahu akbar) juga bisa sebagai sedekah. Begitu pula amar ma’ruf (mengajak kepada ketaatan) dan nahi mungkar (melarang dari kemungkaran) adalah sedekah. Ini semua bisa dicukupi (diganti) dengan melaksanakan shalat Dhuha sebanyak 2 raka’at” (HR. Muslim no. 720).
Berbagi ta’jil untuk berbuka juga merupakan salah satu tanda insan bertaqwa, diniatkan untuk bersedekah maka pahala dan keutamaan akan melimpah, bahkan keutamaannya adalah akan mendapatkan pahala sebesar pahala yang diraih oleh yang berpuasa tanpa berkurang sedikitpun dari pahalanya.
مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لاَ يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا
“Siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun juga.” (HR. Tirmidzi no. 807, Ibnu Majah no. 1746, dan Ahmad 5: 192)
Rangkaian shalat tarawih yang sudah sangat populer di masyarakat muslim, hendaknya jadi media latihan untuk terus istiqomah melaksanakan shalat malam/qiyam lail di bulan lainnya. Karena sejatinya shalat tarawih adalah rangkaian shalat malam yang diajukan waktunya sesuai dengan keputusan ijtihad Umar bin Khattab.
Tinggi Empati
Karya Ramadhan yang penting juga adalah menjadikan puasa kita mampu mencetak jiwa Ukhuwwah/persaudaraan. Jiwa ukhuwwah ini bisa dibagi menjadi tiga jenis, yaitu pertama Ukuhwwah islamiah (persaudaraan sesama umat muslim), kedua Ukhuwwah Wathoniyah (persaudaraan sebangsa/ senegara/ nasionalisme), dan ketiga ukhuwwah basyariyah (persaudaraan sesama manusia/humanisme). Semua jenis persaudaraan tersebut kita kumpulkan dalam satu istilah “Tinggi Empati”.
Salah satu desain Allah agar manusia beriman berhasil meraih tinggi empati adalah dengan memerintahkan untuk menahan Rasa lapar dan dahaga di siang hari. Alloh sengaja membuat puasa ini dengan perintah menahan rasa lapar dan haus mulai terbit sampai tenggelamnya matahari. Dengan berbagai tujuan yang salah satunyaa adalah jiwa empati dalam merasakan perasaan orang lain yang kelaparan, kehausan. kita masih bisa berbahagia karna bisa makan di waktu sahur dan di waktu magrib kita bisa berbuka dengan hidangan yang sudah ada. Tapi bisa jadi orang-orang selain kita, di luar sana sahur pun tidak bisa atau bahkan berbuka tidak ada makanan. Itulah yang kemudian seharusnya salah satu bentuk evaluasi ramdhan kita adalah semakin meningkat kan lagi empati, simpati kita kepada kondisi orang lain
Bentuk nyata dari empati itulah yang kemudian dibuktikan Dengan keralaah hati membayarkan zakat, infak dan wakaf. dengan berimfak merupakan salah satu bukti nyata bahwa empati atau simpati kita itu kemudian kita nyatakan dalam bentuk infak sebagian harta kita keluarkan sedekah, bisa berupa uang atau makanan. Bahkan salah satu hikmah dari zakat fitrah disyariatkan dan lebih afdhol berupa makanan pokok adalah sebagai amal nyata kita terhadap empati atau simpati tadi karna merasakan lapar dan haus, sehingga kita memberikan makanan pokok itu kepada orang lain, kepada yang membutuhkan. Demikian juga disebut dengan mustahik zakat atau orang yang berhak mendapatkan zakat terutama zakat fitrah adalah para dhuafa, Orang-orang yang lemah baik fakir ataupun miskin.
Jika kita tarik lebih luas maka tentu di Ramadhan kali ini masih di masa pandemi secara nasional, umat Islam di seluruh dunia juga masih di uji oleh Allah SWT contonya di antara Saudara- saudara kita yang masih sakit terkena COVID-19 ataupun banyak juga yang terdampak ekonomi karena COVID-19 ini karna pembatasan macam-macam, bahkan mudik sekalipun yang biasanya di jalur mudik itu banyak sekali, terjadi perputaran ekonomi karna mudiknya pun dilarang, maka akhirnya pun juga terdampak ekonomi, itu dari sisi lain.
Mencermati perkembangan dunia internasional menjadi salah satu yang perlu kita renungkan bersama, bahwa ternyata masih ada juga saudara kita umat-umat muslim yang betul-betul kelaparan, kehausan, bahkan kenyamanan hidup merekapun masih terusik, keamanan mereka tidak bisa senikmat kita melaksanakan rangkaian ibadah disini, di Indonesia dipastikan tidak ada satupun mesjid yang diteror ataupun diganggu oleh orang lain. Alhamdulillah,Ini serangkaian nikmat Allah yang sangat besar.
Di bumi Palestina sekaligus tragedi di komplek Masjid Al-Aqso saat ini orang-orang ingin melaksanakan sholat fardhu, ataupun shalat tarawih saja itu di gangggu di cegah oleh zionisme israel yang memang mereka sampai kapanpun zionisme israel itu tidak akan ridho terhadap umat islam. Alloh berfirman :
"Tidak akan sekali-kali orang Yahudi dan nasrani ridho terhadap agama Islam kita ini, sampai kita ini semua mengikuti Agama atau kelompok mereka".
Oleh karena itu, maka marilah kita sama-sama renungkan di bulan Ramadhan tahun 1442 H ini di bulan yang sangat mulia, kita renungkan sejauh mana kualitas iman kita. Kalau kita teraweh penuh, puasa kita juga penuh, sedekah, zakat fitrah sah penuh, cek hati kita apakah didalamnya masih ada setitik rasa kemanusiaan, rasa sedih, rasa iba, rasa peduli, rasa empati terhadap saudara-saudara kita di Palestina Al-Aqso sana. Kalau ada setitik perasaan empati itu, Alhamdulillah berarti puasa kita sukses membuat kita menjadi lebih empati, simpati peduli terhadap saudara kita.
Namun, jika sebaliknya sama sekali tidak ada rasa iba, perduli, sedih terhadap kejadian-kejadian yang ada di Palestina sana, maka na'udzubillah berarti keimanan dan ketaqwaan kita harus segera di perbaiki, apalagi kalau kita yakini bahwa masjidil Aqso adalah Masjid kedua yang di muliakan oleh Allah SWT, dalam QS. Al-Isro di jelaskan bahwa isro nya Nabi yaitu perjalanan Isra mi’raj dari Masjidil Haram di Makkah ke Masjidil Aqso di Palestina dan di ayat tersebut sungguh Allah telah menyampaikan bahwa "baaroknaa haulahu " yaitu telah Allah berkahi di sekitarnya komplek masjid Al-Aqsa. Maka para pejuang Palestina umat muslim Saudar-saudara kita yang berada disana itu merupakan garda terdepan yang menjaga Masjid Al-Aqso ketika ingin dirusak dan diganggu oleh orang-orang zionisme Israel.
Bukti-bukti nyata pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) yang dilakukan oleh zionisme israel sudah tidak cukup lagi didokumentasikan, sudah terlalu banyak buktinya, namun tidak ada satupun bentuk hukum formal yang bisa menjerat mereka. Mulai dari gambar-gambar kekejian terhadap anak-anak, video pembunuhan kepada perempuan sipil tak berdosa, hingga dokumen-dokumen resmi “negara” zionis israel yang memang sengaja ingin menjajah dan merebut tanah palestina.
Begitu sangat menyedihkan lagi ketika terjadi kebakaran di masjid Al-Aqso akibat dari tembakan bom ke pohon di komplek masjid, ternyata terlihat video yang menggambarkan sekelompok pemuda zionis yang sedang berada di seberang tembok ratapan yahudi, mereka terlihat malah asyik bernyayi dan bersuka cita, riang gembira karena melihat komplek mesjidil aqso terbakar. Ini artinya sudah jelas niatan mereka bukan lagi masalah politik atau perebutan wilayah keAgamaan. Mereka betul-betul sudah melanggar HAM dan tidak berperikemanusiaan, maka secara teori apapun menganggu atau menyerang Masjid sebagai simbol tempat ibadah umat Islam adalah salah satu kejahatan internasional yang harus segera di selesai kan oleh seluruh pemimpin dunia. Namun apa daya kita umat Islam saat ini tidak mempunyai kekuatan untuk itu, yang paling bisa kita lakukan adalah merasa iba, sedih dan juga mendo'akan dalam setiap sholat. Buktikan bahwa Taqwa kita adalah tinggi Empati.
Kartasura, 1 Syawal 1442 H.

No Responses